Sabtu, 29 September 2012

The Different of Syariah and Konvensional Business Process

-->
The Different of Syariah and Konvensional Business Process
Apa sebenarnya yang sangat membedakan antara proses bisnis syariah dan konvensional???
Yang paling mendasar yang membedakan diantara keduanya adalah sumber hukum dasar yang membuat bisnis ini berdiri, yaitu syariah didasarkan pada al-quran dan sunnah atau prinsip agama islam,yang membahas bagaimana seharusnya kaum muslim berprilaku sebagai pelaku bisnis dalam hal menanamkan modal, system bunga atau riba dsb.
Dalam proses bisnis syariah tidak dibolehkan dengan  yang namanya syatem riba  dalam seluruh aktivitasnya , untuk menghindari itu maka system yang dikembangkan adalah jual beli dan juga bagi hasil.
Ada 4 sifat dari proses bisnis syariah in yaitu:
Kesatuan (unity)
Keseimbangan (equilibrium)
Kebebasan (free will)
Tanggungjawab (responsibility)
Bank syariah diwajibkan mengelola zakat  yaitu dalam arti wajib membayar zakat, menghimpun dan mengadministrasikan serta mendistribusikannya.
Laporan keuangan syariah yaitu:
- laporan laba rugi
- neraca
- laporan arus kas
- catatan atas laporan keuangan
-laporan komitmen dan kontijensi

Berbeda dengan syariah , konvensional menetapkan bunga, Bunga (ekonomi konvensional)
Ketentuan pembayaran bunga ditetapkan pada waktu akad, dengan melihat bahwa setiap kegiatan usaha yang dilakukan akan selalu mendapatkan keuntungan. 
Besari kecilnya bunga tergantung jumlah uang yang dipinjamkan oleh pihak bank. Semakin besar nasabah meminjam uang (modal), maka bunga yang ditawarkan oleh bank semakin kecil. Begitu sebaliknya, semakin kecil uang yang dipinjam oleh nasabah, maka bunga akan semakin tinggi.
Jumlah pembayaran bunga tetap dan tidak meningkat, tidak melihat usaha yang dijalankan oleh nasabah mendapatkan untung atau rugi. Tanpa mempertimbangkan nasabah rugi dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. 
Demikian sebaliknya, pembayaran bunga tetap, meskipun nasabah dalam menjalankan bisnisnya mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat.
 Referensi:
erlangga,ajimartawireja.dkk.2009.akuntansiperbankansyariah,teoridanpraktikkontemporer.Jakarta:salembaempat.


Kamis, 27 September 2012

business process

PROSES adalah kumpulan kegiatan atau aktivitas kerja.
PROSES BISNIS adalah KUMPULAN PROSES di dalam sebuah perusahaan  yang terstruktur dan teratur sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah nilai tambah bagi proses proses berikutnya, yang pada khirnya menghasilkan sebuah produk atau jasa yang memberikan manfaat dan berdaya guna bagi penggunanya.

PROSES BISNIS merubah MASUKAN (input) baik itu data, informasi, dokumen ataupun bahan baku menjadi KELUARAN (output) dalam bentuk informasi lebih lengkap, produk setengah jadi atau produk jadi, atau jasa yang telah bernilai tambah untuk dapat dimanfaatkan lebih lanjut dalam proses berikutnya. Oleh karenanya setiap proses bisnis harus dirumuskan, direncanakan dan dirancang secara sistematis dan terstruktur sehingga mudah untuk dilaksanakan, ditelusuri dan diperbaiki, sehinga sebuah proses bisnis bisa terdiri dari banyak sub-sub proses.
Menurut Dr. Michael Hammer seorang guru besar Massachusetts Institute of Tecnology (MIT) dalam bukunya yang sangat populer pada tahun 90 an, Proses bisnis hakekatnya adalah menawarkan alternatif untuk menggantikan sistem dan prosedur yang telah berpuluh-puluh tahun dipakai dalam mekanisme organisasi yang akhirnya cenderung menyebabkan organisasi perusahaan atau lembaga pemerintahan menjadi terkotak-kotak atau terbentuknya silo-silo organisasi yang sangat birokratis karena mengutamakan prosedur.
Dengan terbangunnya proses bisnis, maka diharapkan akan:
·         Tersedia data-data untuk manajemen mutu; dan
·         Tersusunnya mapping manajemen mutu.
Untuk lebih memahami pengertian tentang proses bisnis, mari kita sederhanankan bahasanya. Jadi, proses bisnis itu:
·         Memiliki tujuan;
·         Memiliki masukan (input);
·         Memiliki keluaran (output);
·         Menggunakan sumber daya untuk melaksanakannya;
·         Memiliki sejumlah kegiatan yang saling bersinergi dalam menghasilkan produk/ layanan;
·         Dimungkinkan melibatkan lebih dari satu unit kerja; dan
·         Memberikan nilai tambah bagi pelanggan (orientasi pada pelanggan).
Dalam membuat proses bisnis, ada prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan. Prinsip dalam mengimplementasikan proses bisnis, yaitu:
·         Efektifitas, menghasilkan produk/ layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan;
·         Efisiensi, meminimalisasi penggunaan sumber daya perusahaan dan mengeliminasi birokrasi; dan
·         Adaptif, fleksibel terhadap perubahan lingkungan bisnis.
pro_04
Cara Pemodelan Proses Bisnis :
1.     Menentukan tujuan, ruang lingkup, dan batasan
2.     Pemahaman & memetakan proses yang berjalan pro_05
3.     Mengukur kinerja proses
4.     Menentukan akar masalah (root cause)
5.     Mengidentifikasi perbaikan proses (Menggunakan cara ESIA) :
6.     Implementasi perbaikan proses bisnis

Dari pengkajian jurnal oleh system informasi menajemen mengenai proses bisnis, proses bisnis ini sangat berpengaruh besar bagi perkembangan sebuah perusahaan, apalagi kalau system dari proses bisnisnya itu sangat bagus, karena telah dibuktikan oleh beberapa perusahaan besar diantaranya Toyota yang telah menerapkan proses bisnis ini. Dengan mengandalkan proses bisnis handal perusahaan mereka maju karena proses pembuatannya yang sangat efisien dan efektif walaupun material dan rancangannya sangat berkelas. Dan juga masih banyak perusahaan yang memang berkembang dan maju karena menerapkan proses bisnis tersebut, dengan bertujuan untuk memenuhi tuntutan pelanggan yakni berbiaya rendah, penyerahan produk tepat waktu dan berkualitas tinggi (Faster, Better and Cheaper).
Tapi ternyata dari semua pengertian proses bisnis dan tujuan proses bisnis, masih banyak juga perusahaan yang malah gagal dalam menggunakan proses bisnis ini karena tidak menggunakan proses bisnis yang handal yang tidak memikirkan yang mana yang di prioritaskan terlebih dahulu, Semua ini sangat bertentangan dengan makna dan pengertian yang diberikan oleh Michael Hammer, bahwa pendayagunaan teknologi informasi, baru akan berdaya guna maksimum bila proses bisnisnya telah benar dan simple. Jadi bila proses bisnisnya ribet atau ngawur jangan berharap teknologi informasi akan berdaya guna, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya.
Referensi